Rabu, 22 Oktober 2008
Cuti Itu Asik (2-abis)
Selasa, 21 Oktober 2008
Cuti Itu Asik (1)
beristirahat, yang diberikan managemen kantorku buat karyawannya. Dalam pikiranku, kerja, kerja dan terus kerja. Padahal, jika
diitung-itung hasil jerih payahku terus bekerja tak juga membuahkan hasil 'lebih'. Yang ada hanya pendapatan gaji buat kebutuhan
keluarga, pendapatan sampingan yang jumlahnya tak seberapa dan keasikan melaksanakan rutinitas kerja. Oo, iya, berbicara
pendapatan yang aku terima, nilainya tak seberapa, hanya pas-pasan saja, dimana cukup makan, cukup buat jalan-jalan sekali
seminggu, dan sedikit buat nambah pundi-pundi tabungan ala kadarnya.
Sebenarnya, isteriku telah sering mengingatkanku agar tiap tahun aku mengambil jatah cuti yang diberikan. Namun, karena egoku dan
keinginan tuk menghasilkan nilai kepuasan hidup tersendiri, aku pun selalu mengacuhkan 'rayuan' isteriku. Akhirnya, empat tahun pun
berlalu, sejak aku ambil cuti sebelumnya.
Sepekan, sebelum kami memasuki Ramadhan tahun ini, rayuan serupa kembali dilontarkan isteriku. Berbagai alasan ia lontarkan agar
egoku luntur. Yang membuat aku berkeringat, bahkan nyaris air mataku meleleh, ketika isteriku berujar sejak menikah denganku, tak
pernah aku ajak ngeliat kubur ayah tercintaku yang telah wafat sejak aku masih kanak-kanak. Katanya, ia dan dua anak kami ingin
ayahnya mengajak mereka berziarah. ''Ayolah, yah... Ambil-lah cuti beberapa hari saja. Kita sempatkan ziarah ke makam kakek anak
kita. Aku pun belum pernah ayah ajak ziarah sejak kita menikah,''ucapan inilah yang tak pernah aku lupakan dari mulut isteiku.
Akhirnya, egoku luntur. Dua hari setelah isteriku minta diajak mengunjungi lokasi 'istirahat' terakhir ayah tercintaku, aku menemui
pimpinan di kantorku. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tanpa banyak tanya, bosku langsung menyetujui. Ia langsung ambil pena dan
meneken persetujuan. Aku diberi jatah cuti 2 pekan, terhitung 3 Sebtember 2008.
Kegembiraan isteriku beserta 2 anak kami seakan memuncak saat mendengar aku diizinkan kantor cuti 2 pekan. Kegembiraan ini
karena jadwal cutiku bertepatan perayaan Idul Fitri. Bagi keluargaku, lebaran tahun ini memberikan rasa luar biasa karena tak perlu
buru-buru lagi, seperti perayaan sebelumnya, dimana baru dua hari di kampung, ee, sudah siap-siap balik. (bersambung ya....)
Senin, 15 September 2008
50 Persen Caleg Bintan asal Tanjungpinang
‘’Kita ketahui dari hasil pemeriksaan berkas awal. Banyak calon legislatif berasal dari luar Bintan. Sekitar 50 persen ada,’’ ujar Anggota KPU Bintan, Wandra Fadillah, Minggu (14/9) kemarin.
Calon luar paling banyak lanjut Wandra adalah berasal dari Tanjungpinang. Bahkan, ada calon, yang sebelumnya menjabat Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, pemilu 2009 memutuskan mengambil derah pemilihan (dapil) Bintan.
‘’KPU tak mempersoalkan, selagi berkas lengkap tetap diakomodir. Dimana yang bersangkutan mengambil daerah pemilihan, terserah mereka,’’ ujar Wandra, enggan menyebutkan identitas calon yang dimaksud.
Ketua Lembaga Advokasi Kebijakan Publik, Anton Hattawijaya secara terpisah mengaku aneh terhadap keputusan yang diambil calon. ‘’Seharusnya, mereka mencalonkan di daerah sendiri, mengapa ambil keputusan di daerah orang. Ada apa ini ?’’ ujar Anton.
Meski tak ada batasan dalam Undang-undang, lanjutnya yang bersangkutan harus melihat dari asas kelayakan dan kepatutan. Anton memastikan, tak mungkin dalam wilayah Bintan tak ada calon yang bias tampil kedepan menjadi ‘pahlawan’ aspirasi masyarakat.
Pemuda ini memastikan, banyak tokoh Biantan layak jadi. Mereka tentu merasa tak enak saja jika wakil mereka berasal dari luar Bintan. ‘’Kita harap, calon luar yang dapat nomor jadi dapil Bintan, mau berlapang dada. Berikan tokoh Bintan kesempatan jadi wakil rakyat di daerah mereka sendiri,’’ tuturnya.
Anton mengharapkan lapisan masyarakat Bintan jangan memahami kondisi ini. Berikan pilihan sesuai hati nurani jangan berlandaskan kepentingan sesaat.
‘’Saya berharap, pilihlah calon sendiri. Karena calon daerah sendiri punya ikatan emosional untuk memajukan daerah sendiri,’’ pungkasnya. (zek)
Jumat, 05 September 2008
Komisaris BUMD Harus Tanggung Jawab
* Ketua DPRD Jangan Hanya Cari Sensasi
(keterangan foto jayak satria: Kantor BUMD Provinsi Kepri)
TANJUNGPINANG (BP) - Kamis (4/9) kemarin Dewan Komisaris PT Pembangunan Kepri yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kepri menggelar rapat dengan Dewan Direksi perusahaan milik Pemprov Kepri itu. Namun apa hasil rapat yang berlangsung di Kantor Gubernur Jalan Basuki Rachmat Tanjungpinang dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB tersebut belum dapat diketahui secara jelas.
Komisaris Utama, H M. Sani belum dapat dihubungi, sedangkan dua orang komisaris lainnya, yakni H Imam Sudradjad dan Nuraida Moekhsin tidak mau memberikan keterangan. ”Itu Pak Sani yang berwenang memberikan penjelasan hasil rapat. Yang jelas tiga orang Direksi hadir semuanya,” kata Nuraida, menjawab Batam Pos, usai rapat.
Hal sama dikatakan Imam Sudradjad. ”Saya tidak bisa memberikan keterangan tentang hasil rapat ini. Tanya saja kepada yang lain, tapi semua kok hadir, baik dari pihak komisaris maupun direksi, yakni Reviansyah, Direktur Utama, Cahyo Satrio dan Rivan, masing-masing sebagai Direktur Keuangan dan Direktur Operasi,” jelas Imam.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Andi Anhar Chalid mengaku, sudah mendengar adanya rapat antara Dewan Komisaris dan Dewan Direksi PT Pembangunan Kepri itu. Terkait buruknya kenerja direksi Andi mengatakan, pihak komisaris harus bertanggung jawab. Karena selama ini, komisaris terkesan melindungi para direksi, melalui rapat rutin yang digelar dengan para direksi setiap bulannya.
Jika benar rapat rutin dilakukan secara efektif dan sungguh-sungguh, tidak mungkin kenerja PT Pembangunan Kepri separah ini. Seperti tidak terjadinya komunikasi antara Direktur Utama dengan pada kepala devisi. Dalam manajemen, komunikasi justru menentukan berhasil tidaknya seorang manejer.
Kalangan DPRD Kepri, menurut dia, sebenarnya sudah lama jengkel dengan kinerja manajemen PT Pembangunan Kepri. Karena dari modal awal Rp10 miliar, pihak Direksi menyanggupi memberikan pemasukan (keuntungan) sebesar Rp3 miliar kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD).
”Jadi modal awal BUMD itu Rp10 milar. Setelah ditagih dalam hearing (rapat kerja) dengan Panitia Anggaran (Panggar) DPRD, pihak Direksi minta dikurangi target itu menjadi Rp1,7 M. Angka Rp1,7 miliar itupun tidak pernah terealisasi, sehingga sumbangan PT Pembangunan Kepri ke PAD masih nol rupiah,” ujarnya.
Andi mengaku, belum tahu isi rapat antara Direksi dengan komisaris itu. Namun erat kaitnya dengan pencalonan Revi sebagai anggota DPR-RI dari salah satu partai politik. ”Saya cuma digambarkan Reviansyah berjanji akan mengajukan surat pengunduran diri sebelum 9 September 2008 ini. Itupun katanya atas desakan dewan komisaris,” ujar Andi.
Sementara itu, Ketua Umum GM BP3KR Provinsi Kepri, Basyaruddin Idris menilai keputusan Ketua DPRD Kepri, Nur Syafriadi secara berani membeberkan ada sekitar 10 proyek di Batam yang diduga berkasus, tak ubah sikap cari sensasi saja. Jika tak cari sensasi, katanya, mengapa pengungkapan temuan beberapa oknum dewan main proyek hingga kini terkesan didiamkan oleh unsur pimpinan dewan itu sendiri. ”Mana sikap Ketua DPRD Kepri mengusut oknum dewan main proyek,’’ kata Basyaruddin Idris, kemarin.
Selain itu, Basyaruddin mengatakan, Nur Syafriadi memastikan banyak pengerjaan proyek APBD yang dilakukan Pemprov Kepri berkasus. ”Idealnya, Nur juga harus berani pula menyebutkan pengerjaan mana saja yang berkasus itu. Jangan hanya menyebut jumlah tanpa ada nama proyek,” bebernya.
Selain memberi reaksi terkait sikap Ketua DPRD Kepri, perhatian Basyaruddin juga tertuju kinerja jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kepri. Terlebih, terkait pencalonan Dirut BUMD, Reviansyah, menjadi bacaleg. ”GM BP3KR nilai Dirut BUMD tak serius menjalankan amanah tugas. Yang bersangkutan harus memahami, operasional BUMD serta gaji yang bersangkutan bersumber APBD Kepri. Laksanakan dengan penuh tanggung jawab,’’ ujarnya.
Komisaris PT Pembangunan Kepri H Imam Sudradjad, sebelumnya mengatakan manajemen BUMD tidak berjalan, karena tidak ada kecocokan antara Dirut dengan para devisi yang ada, sehingga mengganggu semua program BUMD yang sudah ada. Selain tidak mampu memimpin, ketidakcocokan antara Dirut dengan para kepala divisi ini menimbulkan kecemburuan sosial. Karena sesungguhnya para kepala devisi yang jumlahnya 7 orang adalah sama-sama melamar menjadi direksi dan masuk 10 besar pada tahapan tes fit and proper test.
Akhirnya 10 orang itu diterima beberja pada PT Pembangunan Kepri. Cuma dari 10 orang itu, tiga masuk dalam Direksi, yakni satu orang pada posisi Dirut, dua orang lagi masing-masing penduduki jabatan Direktur Operasional dan Direktur Keuangan. Sedangkan sisanya tujuh orang ditempatkan sebagai kepada divisi.
Beda kedudukan tentu beda pendapatan. Sekadar diketahui gaji Dirut BUMD mencapai Rp25 juta per bulan plus rumah kontraran, mobil dinas, uang perjalanan dinas. Sedangkan direktur lainnya hanya mendapat gaji antara Rp10 juta hingga Rp17 juta per bulan, dan para kepala divisi antara seberar Rp7,5 juta per bulan. (zekma/Aji)
Rabu, 27 Agustus 2008
Ketua DK Siap Cabut Sendiri PP 63

Ketua Dewan Kawasan (DK) FTZ, Ismeth Abdullah menegaskan jika pemerintah pusat tak kunjung memutuskan pencabutan PP 63 tahun 2003 tentang penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) di Batam, maka DK FTZ akan mengambil keputusan sendiri.
”Kita telah lama menanti pencabutan PP 63. Pusat tak kunjung memberi putusan. Jika masih lambat juga, kita pastikan DK FTZ sendiri yang akan putuskan,’’ tegas Ismeth Abdullah, usai menghadiri syukuran penempatan gedung Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Kepri di Senggarang.
Ismeth menyebut jika PP 63 masih tetap diberlakukan di Pulau Batam, tentu akan berbenturan dengan penerapan FTZ BBK yang akan segera terealisasi. ’’Personel BPK telah ditetapkan. Setelah itu, menyusul kelengkapan yang lain. Jika semua telah lengkap, FTZ dilaksanakan. Payung hukum yang berbenturan akan dicabut,’’ ujar Ismeth yang juga menjabat Gubernur Kepri ini.
Kesepakatan mencabut PP 63 didasari penerapan FTZ BBK hasil rapat bersama DK belum lama ini. Jika selama ini hanya Batam ditetapkan sebagai kawasan berikat, kondisi itu tak berlaku sejak BBK ditetapkan sebagai FTZ. Oleh sebab itu sudah saatnya PP 63 dicabut dan diganti payung hukum pemberlakuan FTZ BBK.
Sebelumnya, Ismeth Abdullah telah mengatakan pada koran ini Agustus 2008, deadline terakhir penyiapan sarana dan prasarana penunjang pemberlakuan FTZ BBK. Beliau optimis akan terlaksana menyusul telah terbentuk Tim percepatan FTZ dan penyediaan Sekretariat DK FTZ di Tanjungpinang.
Keberadaan sekretariat yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang lanjutnya memudahkan DK melayani calon investor yang datang. Selama ini katanya DK mengalami kesulitan menerima calon investor luar karena belum tersedia gedung sekretariat DK. Bahkan, beberapa kali calon investor yang menyingahi Kepri, terpaksa diterima di lokasi kantor Gubernur Kepri.
”Lembaga DK FTZ terpisah dari Pemprov Kepri. Kita berdiri masing-masing. Karena itu, Sekretariat DK harus ada dan saat ini tinggal penempatan saja,’’ujar Ismeth. Untuk BPK Pulau Bintan, Ismeth mengatakan karena ada dua pemerintahan yakni Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, DK mengambil keputusan dilakukan pemisahan. BPK Tanjungpinang berdiri sendiri dan BPK Bintan berdiri sendiri. (zekma)
Mahasiswa Umrah Kesurupan
Rektor Umrah, Maswardi M Amin, ketika diminta tanggapannya, mengakui insiden tersebut. Jumlahnya sekitar 14 mahasiswa. Awalnya lanjut Maswardi, hanya 4 mahasiswa yang kesurupan. Mereka langsung ditangani menggunakan jasa tokoh agama dan ”orang pintar” setempat. ”Saya langsung mengambil keputusan, jam 01.30, kegiatan ospek ditutup. Seluruh mahsiswa baru dipulangkan menggunakan bus yang telah disediakan,’’ ujar Maswardi M Amin.
Menurut laporan yang ia terima, insiden terjadi setelah rombongan Wakil Gubernur Muhammad Sani meninggalkan lokasi. Kunjungan Wagubkepri sempena menjalin nota kesepahaman (MoU) Pemprov dengan Umrah tentang larangan pemakaian obat terlarang, pergaulan bebas dan pengaktifan kegiatan pramuka.
”Setelah penandatanganan MoU selesai, mahasiswa baru diistirahatkan. Kita juga shalat bersama. Rencana, setelah shalat, anak-anak diarahkan melakukan kegiatan pembersihan pekarangan kampus. Sebelum kegiatan dilakukan, sekitar 4 orang kesurupan,’’ ungkap Maswardi.
Insiden, pun terus berlanjut. Setelah 4 mahasiswa pertama terkena dan telah disembuhkan, insiden kemudian menimpa satu-persatu mahasiswa lainnya. Mahasiswa yang kesurupan, bukan satu fakultas saja melainkan semua fakultas. ‘’Semua gedung ada ‘penghuni’nya. Karena, mahasiswa yang kesurupan tengah berada dalam gedung. Jumlahnya capai 14 orang,’’ tutur Maswardi.
Terkait insiden ini, rektor pertama Umrah ini mengatakan pihak managemen mengambil beberapa langkah. Antara lain segera mengundang tokoh agama dan ‘orang pintar’ setempat.
‘’Jika tak ada aral, besok (hari ini-red), managemen akan menggelar pertemuan bersama mereka,’’ katanya.
Informasi lain yang diperoleh Batam Pos terkait insiden kesurupan belasan mahasiswa Umrah mengatakan mahasiswa yang terkena mencapai puluhan orang. Mereka yang keserupan itu kebanyakan perempuan, rata-rata dari jurusan Kelautan, dan sebagaian kecil dari jurusan F-KIP serta Bahasa.
Kesurupan berawal dari salah seorang mahasiswi peserta di ruang konsumsi kampus yang belum lama ditempati itu. Mahasiswi tersebut seketika mengerang, berteriak histeris. Beberapa mahasiswa, termasuk mahasiswa senior kemudian menolong mahasiswi yang kesurupan tersebut dan membawanya ke aula.
Diperkirakan, mereka yang kesurupan berjumlah 20-an dari sekitar 700 peserta ospek. Mereka diantaranya bisa disadarkan dengan dibantu masyarakat sekitar. Dengan kejadian itu, ospek di hari itu dibubarkan sebelum ditutup secara resmi. Kampus Umrah yang disenggarang itu baru ditempati saat ospek dilangsungkan. (zekma)
(batampos, 28 Agustus 2008) Read More..
Minggu, 03 Agustus 2008
Di Mana Pun Berada, Kau Selalu Dibutuhkan
Dengan penuh semangat, energik dan antusias, pembicara membahas bagaimana motivasi pengembangan usaha diselingi pemberian trik menarik agar bergabung dalam group bisnis menggunakan sistim Multy Level Marketing.
Saya terus mendengar. Dalam pikiran (maaf), bukan bisnisnya yang menjadi menarik tapi pesan yang disampaikan memicu adrenalin untuk menilai betapa pentingnya arus komunikasi. Disaat pembicara memberikan tips-tips pengembangan usaha, di sisi lain pikiran saya langsung tertuju ada pihak secara langsung mengecap keuntungan dari pertemuan bisnis ini. Secara tak langsung, ia memanfaatkan momen yang sudah diciptakan dan dibangun menjadi momen menghasilkan profit.
Disadari atau tidak, penyelenggara kegiatan harus memanfaatkan jasanya. Siapa pihak tersebut? Jawabnya produk hulu dan hilirnya perangkat telekomunikasi, salah satu adalah Telkomsel. Mengapa prioritasnya Telkomsel, harus saya akui pula, pengguna produk Telkomsel di lingkungan Provinsi Kepri tercatat paling besar. Sangat beralasan jika Telkomsel membuat moto operator pertama dan terbesar dengan jaringan luas di seantero Indonesia.
’’Luar biasa,’’ teriak saya. Kontan teman di samping kaget mendengar gumaman saya. ’’Bapak tertarik bisnis ini ya,’’ ujarnya. Saya pun tersenyum, mendengar teman sebelah tempat duduk saya menyapa. Saya kembali bergumam, jika-lah pertemuan ini tak ada provider telekomunikasi, contohnya layanan Telkomsel dengan aneka jenis produknya, tentu acara seminar tak berjalan sempurna. Saya bisa pastikan, pasalnya sebagian besar Handphone peserta menggunakan produk layanan Telkomsel. Kenyataan terlihat dari buku absensi kehadiran, yang kala itu mencantumkan nomor ponsel yang bersangkutan.
Mulai dari mengundang, memberitahu jadwal pertemuan, menggunakan Short Massage Serviceses (SMS), lalu Multimedia Message servicess (MMS), lantas silaet pembicara yang dibuat dalam Power Point, Handphone Comminicator miliknya bisa menanyangkan amat jelas dengan layanan Calling Line Identification Restriction. Sekitar 500 undangan yang hadir, sekitar 70 persen menggunakan layanan produk Telkomsel, seperti Hallo, Simpati, Kartu As, dan sebagainya.
Pikiran sempit saya kala itu, selain menghitung keuntungan yang diterima oleh Telkomsel dalam satu kegiatan, saya melihat Telkomsel telah menjadi media kunci untuk mencapai sukses. Luar biasa.
Kondisi Provinsi kepulauan Riau yang meliputi sekitar 4529 pulau bisa menjadi satu oleh Telkomsel. Dunia tanpa batas betul-betul dibuktikan dengan kejelasan suara, akses yang cepat dan tarif murah. Hingga bisa dikatakan kebutuhan pokok saat ini bukan beras tapi pulsa telepon.
Beberapa minggu kemudian, perhatian saya pun kembali tertegun. Saat pencairan Biaya Langsung Tunai BLT sebesar Rp300 ribu perkepala keluarga, ternyata sebagian besar penerima BLT memiliki Handphone. Diterima atau tidak, kategori masyarakat miskin di Provinsi Kepri tak bisa lagi dilihat apakah menggunakan ponsel atau tidak. Yang pasti, banyak masyarakat miskin, punya ponsel. Perhatian pun tertuju tingginya minat warga miskin di Kepri menggunakan provider Telkomsel.
Ibu Anis, salah seorang warga miskin Tanjungpinang penerima BLT, mengatakan pulsa Telkomsel murah. Jika ngomong katanya sedikit makan pulsa. Bukan promosi tapi kenyataan yang terucap dari mulut warga ini.
Pujian juga terucap dari A Sui, pedagang sembako di Jalan Pramuka Tanjungpinang. Bayangkan, ujar pedagang ini seperti tak mau berhenti memuji Telkomsel, bila pake Simpati bisa ngomong panjang lebar sama toke, harga, barang masuk, order bisa saya antar.
Setiap hari, katanya ia harus membagikan setengah kuintal ikan pada pedagang kecil dan rumah makan, Saya Isi pulsa seratus ribu, bisa datangkan uang Rp300.000/hari, sambil dagang bisa cakap sama anak istri saya di Lingga, kabupaten yang berjarak 1600 km dari tj,pinang dibatasi laut, kalau naik speed kurang lebih 4 jam perjalan dengan ongkosnya sekitar Rp375 Ribu one way. ’’Apa tak untung, isi pulsa seratus, kejap-kejap bisa telepon sana sini, rindu lepas untung pun dapat,’’kata A Sui.
Di balik banyaknya pujian, ada juga rasa pesimistis pengagum produk Telkomsel. Salah satu, terlontar dari Penasehat Gapensi Provinsi Kepri, H Majid Asis. Terus terang katanya, belasan tahun ia tak pernah ke lain hati, tetap menggunakan layanan Telkomsel, dimana pun berada.
Rasa pesimistis yang ia ungkapkan, tatkala tengah berada di Desa Penaah Kabupaten Lingga. Dalam kesempatan kunjungan katanya ia kesulitan memanfaatkan jasa layanan Telkomsel, karena signal kecil, bahkan sering hilang.
Dari pengakuan warga Penaah padanya, kerinduan agar layanan Telkomsel lancar, ada mengalir. Harapan warga bukan satu, dua atau tiga orang saja, akan tetapi sangat banyak warga Penaah yang mendambakan.
’’Momen 13 tahun Telkomsel, kita harap Desa Penaah dapat menikmati layanana Telkomsel. Moto Dunia tanpa batas Telkomsel akan lebih sempurna bila daerah yang belum tersentuh dapat menikmati layanan,’’katanya.
Meski demikian, Majid Asis memastikan, keadaan ini hanya terjadi pada satu atau dua daerah saja di wilayah Provinsi Kepri. Dibanding produk layanan komunikasi selurer lainnya, jangkauan Telkomsel jauh lebih luas.
Penulis pun tak mau langsung percaya. Dalam suatu kesempatan berkunjung ke Desa Penaah Kabupaten Lingga bersama rombongan Gubernur Provinsi Kepri, menghadiri pembukaan Lomba Pancing Internasional, belum lama ini, ternyata rasa pesimistis Majid Asis terbukti.
Signal Handphone Merek Nokia seri 6300, milik penulis, ternyata kosong. Padahal, sekitar 1 jam sebelumnya, signal penuh. Pembuktian ini ternyata bukan isapan jempol belaka. Telkomsel belum mengembangkan sayap di daerah tersebut.
Kondisi ini, kemudian menimbulkan rasa penasaran penulis apakah ada rencana pengembangan jaringan Telkomsel ke daerah jauh dari pusat ibukota, seperti Desa Penaah Kabupaten Lingga ini. Jika mengacu moto operator pertama dan terbesar dengan jaringan luas, jelas jawabannya belum sempurna.
General Manager Grapari Telkomsel Tanjungpinang, Filin Yulia, dalam suatu kesempatan perbincangan singkat belum lama ini mengatakan diakui beberapa wilayah di Kepri belum tersentuh layanan Telkomsel. Secara berangsur, ada upaya memenuhi harapan masyarakat ke arah tersebut. Hingga kini jumlah pelanggan mencapai 44,8 juta. Tak berlebihan jika Telkomsel sedikit mengistimewakan pelanggannya. Untuk melengkapi kecanggihan konvergensi IT dan network, Telkomsel mengimplementasikan Convergent Online Charging (COC) dimana sistem ini mempunyai kemampuan meningkatkan fleksibilitas, efisiensi dan penyederhanaan proses dalam menghadirkan ragam inovasi produk dan layanan konvergen prabayar dan pasca bayar.
Seiring dengan penggelaran jaringan terluas, teknology ter-update dan ragam produk yang inovatif, Telkomsel juga berkomitmen untuk hadir lebih dekat dan lebih nyata dengan menghadirkan lebih dari 10.500 titik layanan Telkomsel, baik dikelola sendiri, grapari, gerai, kiosHalo dan outlet dealer. (***)
Meski belum memuaskan, aku kirim buat lomba menulis telkomsel... aku pikir, tak ada salah aku pajang juga di blog-ku.....
Read More..